Rabu, 14 Oktober 2009

Seminggu Bersama D'Java String Quartet

Tanggal 17 April di Auditorium CCF kemarin, Bandung disuguhi gelaran istimewa, yaitu konser D’Java String Quartet (DSQ). Kuartet gesek asal Yogya ini tampil memukau dan membuat CCF penuh sesak bagaikan antrian sembako. DSQ, kala di panggung tampil perkasa dan nyaris tanpa cela. Penonton pun di penghujung konser melakukan tepuk tangan panjang yang artinya minta tambah lagu lagi. Lalu sesudahnya, grup yang terdiri dari Danny (biola), Rama (biola), Ade (cello), dan Dwi (biola alto) itu dikerubuti penggemar yang ingin berfoto, bersalaman, minta tanda tangan, atau mungkin juga menusuk dari belakang. Intinya, hari itu DSQ menjadi bintang dalam semalam. Tobuciler, yang membantu mempersiapkan konser mereka, senang dengan hal ini. Karena apa? Karena Tobuciler kurang lebih tahu bahwa persiapannya sungguh tak mudah. Dalam persiapan itu pula, Tobuciler menemukan bahwa musisi klasik juga manusia, punya rasa punya hati, jangan samakan dengan pisau belati. Berikut petikan agenda yang sempat dicatat Tobuciler tentang keseharian mereka baik sebelum maupun sesudah konser:

Minggu (12/04): Menurut jadwal kereta, mereka mestinya datang pukul enam pagi. Tobuciler yang takut kebablasan kala menjemput mereka, memilih untuk begadang main kartu bersama teman-temannya. Ketika main kartu ini, Tobuciler kaget karena temannya, Karel, ternyata punya paket fullhouse. Namun tak penting untuk membahasnya karena ini sedang membicarakan DSQ. Akhirnya entah karena masinisnya kenapa atau apa, kereta baru datang pukul sembilan. Tobuciler menggerutu dalam hati, ”tau gitu gw tidur dulu, euy!” Tapi tak apa, dijemputlah mereka, bersiap-siap sejenak di kediaman orangtua Tobuciler, lalu diantarkanlah DSQ ke Tobucil untuk tampil di Musik Sore Tobucil yang terkenal itu. Selagu dua lagu, sepukau dua pukau, pulang juga mereka ke peraduan. Namun sebelumnya, DSQ diwawancara dulu di Radio Mara. Sebelumnya lagi, DSQ makan dulu. Sebelumnya pula, mereka naik mobil dan jalan-jalan barang sejenak.

syarafmaulini manager tour D’Java : Syarif Maulana

Senin (13/04): Tobuciler bangun pagi jam delapan. Lalu sarapan dan jalan pagi keliling komplek. Setelah itu kembali tidur. Tobuciler bingung karena hari itu tidak bertemu DSQ. Mereka numpang tidur, makan, dan buang air di rumah Rama. Jadi Tobuciler bercerita kegiatannya sendiri saja.

Selasa (14/04): Malam setelah Tobuciler melaksanakan kegiatan hariannya, DSQ datang jua. Ada apa kenapa? Mereka mau diwawancara oleh radio Walagri yang terletak di jalan dago seberang Borromeus. Dipandu penyiar Grace dan musikolog Pak Tono, DSQ pun membawakan selagu dua lagu. Sesudahnya Rama sakit perut.

Rabu (15/04): Kalau tidak bertemu mereka mau cerita apa?

Kamis (16/04): Tobuciler cetak buklet untuk konser mereka. Awalnya harganya dikira murah, taunya seawan (tidak sampai langit). Setelah bertukar pesan dengan Rama, akhirnya disepakati buklet di print digital saja biar bagus biarpun mahal. Setelah itu Tobuciler mengajar gitar, lalu pulang ke rumah. Cuci kaki, gosok gigi, minum susu sebelum tidur.

Jumat (17/04): Konser tiba juga. Liputannya minggu depan ya..

Sabtu (18/04): Prahara ternyata tak serta merta berakhir bagi Tobuciler. Setelah lega akibat penampilan semalam, Tobuciler berharap bisa mengerjakan UAS sekolahnya dengan tenteram loh jenawi. Tahu-tahu bos Tobucil menelepon di tengah UAS:

Mba Tarlen : ”Halo Syarif, sedang apa kamu?”

Tobuciler : ”Eh Mba, lagi UAS nih” (bisik-bisik)

Mba Tarlen : ”Oh, gitu.. ya udah atuh”

Tobuciler : ”Eh, tapi da dosennya ga ada” (bicara keras)

Mba Tarlen : ”Oh, jadi gapapa nih? Gini, kan Tanto ulang tahun, kita gak tau mau ngasih kado apa, nah gimana kalo D’Java disuruh maen?”

Tobuciler : ”Waduh? Eh? Bentar yah?” (sambil melihat deretan soal UAS yang masih menumpuk)

Tobuciler lagi : “Ntar deh dikabarin yah, Mba” (telepon ditutup sambil terdengar Mba Tarlen bilang oke di seberang sana)

fotodjavadimastanto di rumah R.E Hartanto

Untungnya UAS hari itu kurang jelas apa maksudnya. Sehingga Tobuciler tak terlalu merasa bersalah ketika meninggalkannya. Jadilah DSQ tampil juga di acara ulang tahun Tanto itu. Yang mana oleh Tanto disebut-sebut sebagai ”kado yang berbudaya”. Beres main selagu dua lagu, sepukau dua pukau, Danny kehilangan satu dari sepasang sepatunya. Entah kemana sepatu itu, mungkin diambil orang yang kesengsem dengan penampilan mereka. Yang pasti Danny nampak bingung, ngambil sepatu kok satu doang? Sepasang aja sekalian! Akhirnya DSQ pun pulang nebeng Tobuciler, yang mana di rumah Tobuciler kembali mereka dieksploitasi bagaikan bangsa Indonesia di bawah penjajahan kumpeni Belanda. Ditampilkanlah mereka lagi barang selagu dua lagu tiga lagu. Beres itu mereka ambruk total, capek dan tepar. Tapi sebelumnya mereka makan dulu.

Minggu (19/04): Bangun jam tujuh pagi karena mau naik kereta jam delapan, mereka memilih untuk tidak mandi. Tapi mereka tetap memilih makan dan naik mobil. Pamitlah Rama dan ketiga temannya pada pemilik rumah. Berpelukanlah mereka seperti lebaran telah tiba. Tobuciler memberi DSQ kenang-kenangan poster mereka sendiri. Tobuciler juga pegang, dan ingin mereka tandatangan, tapi tidak jadi karena tidak ada pulpennya. Diantarlah mereka ke stasiun Bandung, tempat kereta berseliweran dan mereka telah memilih keretanya sendiri. Waktu itu sudah jam delapan kurang lima, kereta belum datang juga. Mereka mau tanya orang-orang masinisnya sudah sampai di mana, tapi tidak ada yang jadi bertanya. Akhirnya kereta datang jua, dan kami mau berpelukan tapi tidak jadi karena tidak ada satupun yang sudah mandi. Tapi tak apa, teman, hati kita toh tetap bersalaman bagaikan Zainuddin M.Z. dan jemaatnya. Naiklah mereka ke dalam kereta, meninggalkan Bandung yang gundah gulana.

Syarif Maulana

fotodjava D’Java String Quartet

foto dok. Afifa Ayu, R.E Hartanto dan Ahmad Ramadhan

Tulisan ini di posting ulang dari sini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar