Rabu, 14 Oktober 2009

Liputan D’Java String Quartet

Tulisan ini di publikasi ulang dari sini

“Dilarang memotret dengan menggunakan blitz, memotretlah dengan menggunakan kamera atau hape yang berkamera. Dilarang berbicara ketika lagu berlangsung, apalagi membicarakan kejelekan orang lain. Dilarang tepuk tangan sebelum lagu berakhir, apalagi jika cinta bertepuk sebelah tangan.”

Itu jelas bukan cuap cuap MC yang sedang membacakan protokol pertunjukkan musik klasik. Itu cuma khayalan Tobuciler yang berharap kadang-kadang boleh juga si MC berkata demikian. Biar suasana konser musik klasik lumayan cair lah, jangan terlalu tegang dan bikin gusar sana sini. Namun tanpa paragraf itu pun, resital D’Java String Quartet yang diselenggarakan 17 April kemarin ternyata tak sedemikian menegangkannya. Jika menengok blog Tobucil setidaknya dua tiga minggu ke belakang, nama grup tersebut sering disebut. Namun baru kali inilah, acara puncaknya alias pamungkas, diliput oleh Tobuciler.

Jadi begini, hari Jumat itu tanggal 17 April. Di Auditorium CCF mereka tampil. Mulai jam 19.30, penonton sudah memadati kursi sejak pukul tujuhnya. Ini luar biasa untuk sebuah pertunjukkan musik klasik, yang banyak musisinya menganut paham “setengah kapasitas pun udah syukur”. Memang, musik klasik seringkali identik dengan keseriusan dan keribetan, maka tak banyak orang mau sengaja datang, kecuali benar-benar orang yang serius dan ribet. Namun kebanyakan yang datang tahu, para penampil ini tidak murni demikian. Kuartet gesek yang diisi oleh Rama (biola), Dani (biola), Ade (cello) dan Dwi (biola alto) ini punya selera humor yang baik di atas panggung. Sebelum karya-karya mulai dimainkan, mereka seringkali memulainya dengan penjelasan. Penjelasan ini sungguh polos dan gamblang, dibawa santai dan ringan. Penonton pun senang aduhai bukan kepalang.

D’Java String Quartet membukanya dengan sebuah karya Mozart yang genit. Setiap nada seolah memanggil para penonton, “hay, godain kita dong.” Ini serius, menampilkan Mozart, seorang komposer besar era Klasik, memang mesti segenit mungkin. Setelah aplaus, keempat pemuda tak bertato itu giliran menampilkan karya seorang komposer yang suka galau, yakni Beethoven. Judulnya String Quartet no. 18, gerakan pertama. Jreeet tedodet tot tet tot tet jrooot. Tobuciler ingat betul nadanya. Memukau.

Sesi pertama ditutup dengan penampilan dua dua. Apa itu dua dua? Dari empat orang itu dibagi dua. Jadilah dua orang dua orang, alias dua dua. Yang pertama Rama dan Dwi bermain Passacaglia karya Handel, yang berikutnya Dani dan Ade memainkan lagu kontemporer karya Zoltan Kodaly, yang membuat penonton berkerut kerut penuh makna dan arti.

Selesai break, mereka tiba-tiba sumringah menghadapi sesi dua. Kenapa? Setelah ditanya, katanya mereka senang sudah melewati sesi pertama. Katanya sesi pertama lagunya berat-berat, yang sesi dua ringan-ringan. Dibukalah dengan karya Claude Debussy, seorang komposer Impresionis asal Prancis. Tet tot tot tet todedot tet tot tet. Luar biasa.

Setelah itu keempat pemuda belum menikah tapi ingin itu menampilkan lagu karya komposer asal Georgia (Tobuciler sempat mendengarnya seperti Yogya), bernama Tsintsadze. Empat bagian karya itu dibawakan D’java dengan apik, termasuk bagian akhirnya yang diceritakan Ade sebagai: lagu pengantar Hitler tidur.

Masuklah lagu terakhir, karya Antonin Dvorak (baca: Forzak). Berjudul “The American”. Panjang nian lagu itu. Mendayu-dayu. Kadang mengeras dan berteriak bagai orang teriak maling. Hingga akhirnya dengan cerdas mereka menutup lagu terakhir dengan bagian yang keras menggelora. Penonton pun bertepuk tangan panjang. Riuh. Bahkan hingga D’Java meninggalkan panggung. Eh penonton masih tepuk tangan juga. Sehingga keempatnya mesti naik lagi untuk meredakan tepuk tangan. ”Stop stop, eh udah tepuk tangannya, ga capek kalian?” itu Tobuciler berandai-andai mereka berkata demikian. Tapi tentu saja tidak. Mereka meredakannya dengan cara yang elegan, yakni: menampilkan Eine Kleine Nachtmusic-nya Mozart bagian keempat. Meski wajah lelah, tubuh lemah. Tapi Tobuciler tampaknya tahu bahwa hatinya cerah. Karena penonton terus memperhatikan dengan wajah antusias. Seolah lupa bahwa malam terus larut, besok anaknya harus sekolah, di rumah pembantu ditinggal sendirian, mobil yang parkir di BEC tutup jam sembilan, dan lain sebagainya. Lagu berakhir, acara pun berakhir, karena tepuk tangan sudah reda. Ada yang langsung pulang ada yang tidak. Yang tidak, masuk ke ruang ganti: menyalami mereka satu per satu, mengajak berfoto, dan bertanya-tanya entah apa, mungkin apakah kamu sudah punya pacar atau belum?

Demikianlah cerita dari konser D’Java String Quartet. Mari berharap kapan-kapan mereka bisa kembali lagi. Mencerah ceriakan Bandung yang sudah cerah ceria tapi belum terlalu. Keep Bandung Beautiful, euy!

Syarif Maulana

Djavadphoto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar