Selasa, 29 Desember 2009

DJava String Quartet Played Faure-La Bonne Chanson: Puisque l'aube grandit



Konser Young Artist Festival, Goethe Institute, Jakarta, 12 Desember 2009.

Rabu, 25 November 2009

Video Latihan Claude Debussy: Quartet in G Minor, Op. 10 - 3rd Mvmt



Dari sesi latihan, 18 November 2009. Kampus ISI, Yogjakarta.

Video Latihan J.F. Haydn String Quartet in D Minor (fifth) Op. 78 No.2



Dari sesi latihan DJava String Quartet, 18 November 2009. Kampus ISI, Yogjakarta.

Sabtu, 21 November 2009

J.F. Haydn String Quartet in D Minor (fifth) Op. 78 No.2

Ini hasil rekaman terbaru kami dari sesi latihan tanggal 18 November 2009, di kampus ISI Yogjakarta. Meski kualitas rekamanannya tidak maksimal, tapi cukup lumayan lah dan masih bisa dinikmati. Silahkan klik link berikut:

J.F. Haydn String Quartet in D Minor (fifth) Op. 78 No.2.mp3

Our Fan Page on Facebook

Please join and become our fan on facebook :)
Just click this link.

Kamis, 15 Oktober 2009

Cublak Cublak Suweng

Dari acara Musik Sore Tobucil & Klabs, Juni 2009. Sebuah Komposisi lagu daerah.

Rabu, 14 Oktober 2009

Liputan D’Java String Quartet

Tulisan ini di publikasi ulang dari sini

“Dilarang memotret dengan menggunakan blitz, memotretlah dengan menggunakan kamera atau hape yang berkamera. Dilarang berbicara ketika lagu berlangsung, apalagi membicarakan kejelekan orang lain. Dilarang tepuk tangan sebelum lagu berakhir, apalagi jika cinta bertepuk sebelah tangan.”

Itu jelas bukan cuap cuap MC yang sedang membacakan protokol pertunjukkan musik klasik. Itu cuma khayalan Tobuciler yang berharap kadang-kadang boleh juga si MC berkata demikian. Biar suasana konser musik klasik lumayan cair lah, jangan terlalu tegang dan bikin gusar sana sini. Namun tanpa paragraf itu pun, resital D’Java String Quartet yang diselenggarakan 17 April kemarin ternyata tak sedemikian menegangkannya. Jika menengok blog Tobucil setidaknya dua tiga minggu ke belakang, nama grup tersebut sering disebut. Namun baru kali inilah, acara puncaknya alias pamungkas, diliput oleh Tobuciler.

Jadi begini, hari Jumat itu tanggal 17 April. Di Auditorium CCF mereka tampil. Mulai jam 19.30, penonton sudah memadati kursi sejak pukul tujuhnya. Ini luar biasa untuk sebuah pertunjukkan musik klasik, yang banyak musisinya menganut paham “setengah kapasitas pun udah syukur”. Memang, musik klasik seringkali identik dengan keseriusan dan keribetan, maka tak banyak orang mau sengaja datang, kecuali benar-benar orang yang serius dan ribet. Namun kebanyakan yang datang tahu, para penampil ini tidak murni demikian. Kuartet gesek yang diisi oleh Rama (biola), Dani (biola), Ade (cello) dan Dwi (biola alto) ini punya selera humor yang baik di atas panggung. Sebelum karya-karya mulai dimainkan, mereka seringkali memulainya dengan penjelasan. Penjelasan ini sungguh polos dan gamblang, dibawa santai dan ringan. Penonton pun senang aduhai bukan kepalang.

D’Java String Quartet membukanya dengan sebuah karya Mozart yang genit. Setiap nada seolah memanggil para penonton, “hay, godain kita dong.” Ini serius, menampilkan Mozart, seorang komposer besar era Klasik, memang mesti segenit mungkin. Setelah aplaus, keempat pemuda tak bertato itu giliran menampilkan karya seorang komposer yang suka galau, yakni Beethoven. Judulnya String Quartet no. 18, gerakan pertama. Jreeet tedodet tot tet tot tet jrooot. Tobuciler ingat betul nadanya. Memukau.

Sesi pertama ditutup dengan penampilan dua dua. Apa itu dua dua? Dari empat orang itu dibagi dua. Jadilah dua orang dua orang, alias dua dua. Yang pertama Rama dan Dwi bermain Passacaglia karya Handel, yang berikutnya Dani dan Ade memainkan lagu kontemporer karya Zoltan Kodaly, yang membuat penonton berkerut kerut penuh makna dan arti.

Selesai break, mereka tiba-tiba sumringah menghadapi sesi dua. Kenapa? Setelah ditanya, katanya mereka senang sudah melewati sesi pertama. Katanya sesi pertama lagunya berat-berat, yang sesi dua ringan-ringan. Dibukalah dengan karya Claude Debussy, seorang komposer Impresionis asal Prancis. Tet tot tot tet todedot tet tot tet. Luar biasa.

Setelah itu keempat pemuda belum menikah tapi ingin itu menampilkan lagu karya komposer asal Georgia (Tobuciler sempat mendengarnya seperti Yogya), bernama Tsintsadze. Empat bagian karya itu dibawakan D’java dengan apik, termasuk bagian akhirnya yang diceritakan Ade sebagai: lagu pengantar Hitler tidur.

Masuklah lagu terakhir, karya Antonin Dvorak (baca: Forzak). Berjudul “The American”. Panjang nian lagu itu. Mendayu-dayu. Kadang mengeras dan berteriak bagai orang teriak maling. Hingga akhirnya dengan cerdas mereka menutup lagu terakhir dengan bagian yang keras menggelora. Penonton pun bertepuk tangan panjang. Riuh. Bahkan hingga D’Java meninggalkan panggung. Eh penonton masih tepuk tangan juga. Sehingga keempatnya mesti naik lagi untuk meredakan tepuk tangan. ”Stop stop, eh udah tepuk tangannya, ga capek kalian?” itu Tobuciler berandai-andai mereka berkata demikian. Tapi tentu saja tidak. Mereka meredakannya dengan cara yang elegan, yakni: menampilkan Eine Kleine Nachtmusic-nya Mozart bagian keempat. Meski wajah lelah, tubuh lemah. Tapi Tobuciler tampaknya tahu bahwa hatinya cerah. Karena penonton terus memperhatikan dengan wajah antusias. Seolah lupa bahwa malam terus larut, besok anaknya harus sekolah, di rumah pembantu ditinggal sendirian, mobil yang parkir di BEC tutup jam sembilan, dan lain sebagainya. Lagu berakhir, acara pun berakhir, karena tepuk tangan sudah reda. Ada yang langsung pulang ada yang tidak. Yang tidak, masuk ke ruang ganti: menyalami mereka satu per satu, mengajak berfoto, dan bertanya-tanya entah apa, mungkin apakah kamu sudah punya pacar atau belum?

Demikianlah cerita dari konser D’Java String Quartet. Mari berharap kapan-kapan mereka bisa kembali lagi. Mencerah ceriakan Bandung yang sudah cerah ceria tapi belum terlalu. Keep Bandung Beautiful, euy!

Syarif Maulana

Djavadphoto

Seminggu Bersama D'Java String Quartet

Tanggal 17 April di Auditorium CCF kemarin, Bandung disuguhi gelaran istimewa, yaitu konser D’Java String Quartet (DSQ). Kuartet gesek asal Yogya ini tampil memukau dan membuat CCF penuh sesak bagaikan antrian sembako. DSQ, kala di panggung tampil perkasa dan nyaris tanpa cela. Penonton pun di penghujung konser melakukan tepuk tangan panjang yang artinya minta tambah lagu lagi. Lalu sesudahnya, grup yang terdiri dari Danny (biola), Rama (biola), Ade (cello), dan Dwi (biola alto) itu dikerubuti penggemar yang ingin berfoto, bersalaman, minta tanda tangan, atau mungkin juga menusuk dari belakang. Intinya, hari itu DSQ menjadi bintang dalam semalam. Tobuciler, yang membantu mempersiapkan konser mereka, senang dengan hal ini. Karena apa? Karena Tobuciler kurang lebih tahu bahwa persiapannya sungguh tak mudah. Dalam persiapan itu pula, Tobuciler menemukan bahwa musisi klasik juga manusia, punya rasa punya hati, jangan samakan dengan pisau belati. Berikut petikan agenda yang sempat dicatat Tobuciler tentang keseharian mereka baik sebelum maupun sesudah konser:

Minggu (12/04): Menurut jadwal kereta, mereka mestinya datang pukul enam pagi. Tobuciler yang takut kebablasan kala menjemput mereka, memilih untuk begadang main kartu bersama teman-temannya. Ketika main kartu ini, Tobuciler kaget karena temannya, Karel, ternyata punya paket fullhouse. Namun tak penting untuk membahasnya karena ini sedang membicarakan DSQ. Akhirnya entah karena masinisnya kenapa atau apa, kereta baru datang pukul sembilan. Tobuciler menggerutu dalam hati, ”tau gitu gw tidur dulu, euy!” Tapi tak apa, dijemputlah mereka, bersiap-siap sejenak di kediaman orangtua Tobuciler, lalu diantarkanlah DSQ ke Tobucil untuk tampil di Musik Sore Tobucil yang terkenal itu. Selagu dua lagu, sepukau dua pukau, pulang juga mereka ke peraduan. Namun sebelumnya, DSQ diwawancara dulu di Radio Mara. Sebelumnya lagi, DSQ makan dulu. Sebelumnya pula, mereka naik mobil dan jalan-jalan barang sejenak.

syarafmaulini manager tour D’Java : Syarif Maulana

Senin (13/04): Tobuciler bangun pagi jam delapan. Lalu sarapan dan jalan pagi keliling komplek. Setelah itu kembali tidur. Tobuciler bingung karena hari itu tidak bertemu DSQ. Mereka numpang tidur, makan, dan buang air di rumah Rama. Jadi Tobuciler bercerita kegiatannya sendiri saja.

Selasa (14/04): Malam setelah Tobuciler melaksanakan kegiatan hariannya, DSQ datang jua. Ada apa kenapa? Mereka mau diwawancara oleh radio Walagri yang terletak di jalan dago seberang Borromeus. Dipandu penyiar Grace dan musikolog Pak Tono, DSQ pun membawakan selagu dua lagu. Sesudahnya Rama sakit perut.

Rabu (15/04): Kalau tidak bertemu mereka mau cerita apa?

Kamis (16/04): Tobuciler cetak buklet untuk konser mereka. Awalnya harganya dikira murah, taunya seawan (tidak sampai langit). Setelah bertukar pesan dengan Rama, akhirnya disepakati buklet di print digital saja biar bagus biarpun mahal. Setelah itu Tobuciler mengajar gitar, lalu pulang ke rumah. Cuci kaki, gosok gigi, minum susu sebelum tidur.

Jumat (17/04): Konser tiba juga. Liputannya minggu depan ya..

Sabtu (18/04): Prahara ternyata tak serta merta berakhir bagi Tobuciler. Setelah lega akibat penampilan semalam, Tobuciler berharap bisa mengerjakan UAS sekolahnya dengan tenteram loh jenawi. Tahu-tahu bos Tobucil menelepon di tengah UAS:

Mba Tarlen : ”Halo Syarif, sedang apa kamu?”

Tobuciler : ”Eh Mba, lagi UAS nih” (bisik-bisik)

Mba Tarlen : ”Oh, gitu.. ya udah atuh”

Tobuciler : ”Eh, tapi da dosennya ga ada” (bicara keras)

Mba Tarlen : ”Oh, jadi gapapa nih? Gini, kan Tanto ulang tahun, kita gak tau mau ngasih kado apa, nah gimana kalo D’Java disuruh maen?”

Tobuciler : ”Waduh? Eh? Bentar yah?” (sambil melihat deretan soal UAS yang masih menumpuk)

Tobuciler lagi : “Ntar deh dikabarin yah, Mba” (telepon ditutup sambil terdengar Mba Tarlen bilang oke di seberang sana)

fotodjavadimastanto di rumah R.E Hartanto

Untungnya UAS hari itu kurang jelas apa maksudnya. Sehingga Tobuciler tak terlalu merasa bersalah ketika meninggalkannya. Jadilah DSQ tampil juga di acara ulang tahun Tanto itu. Yang mana oleh Tanto disebut-sebut sebagai ”kado yang berbudaya”. Beres main selagu dua lagu, sepukau dua pukau, Danny kehilangan satu dari sepasang sepatunya. Entah kemana sepatu itu, mungkin diambil orang yang kesengsem dengan penampilan mereka. Yang pasti Danny nampak bingung, ngambil sepatu kok satu doang? Sepasang aja sekalian! Akhirnya DSQ pun pulang nebeng Tobuciler, yang mana di rumah Tobuciler kembali mereka dieksploitasi bagaikan bangsa Indonesia di bawah penjajahan kumpeni Belanda. Ditampilkanlah mereka lagi barang selagu dua lagu tiga lagu. Beres itu mereka ambruk total, capek dan tepar. Tapi sebelumnya mereka makan dulu.

Minggu (19/04): Bangun jam tujuh pagi karena mau naik kereta jam delapan, mereka memilih untuk tidak mandi. Tapi mereka tetap memilih makan dan naik mobil. Pamitlah Rama dan ketiga temannya pada pemilik rumah. Berpelukanlah mereka seperti lebaran telah tiba. Tobuciler memberi DSQ kenang-kenangan poster mereka sendiri. Tobuciler juga pegang, dan ingin mereka tandatangan, tapi tidak jadi karena tidak ada pulpennya. Diantarlah mereka ke stasiun Bandung, tempat kereta berseliweran dan mereka telah memilih keretanya sendiri. Waktu itu sudah jam delapan kurang lima, kereta belum datang juga. Mereka mau tanya orang-orang masinisnya sudah sampai di mana, tapi tidak ada yang jadi bertanya. Akhirnya kereta datang jua, dan kami mau berpelukan tapi tidak jadi karena tidak ada satupun yang sudah mandi. Tapi tak apa, teman, hati kita toh tetap bersalaman bagaikan Zainuddin M.Z. dan jemaatnya. Naiklah mereka ke dalam kereta, meninggalkan Bandung yang gundah gulana.

Syarif Maulana

fotodjava D’Java String Quartet

foto dok. Afifa Ayu, R.E Hartanto dan Ahmad Ramadhan

Tulisan ini di posting ulang dari sini

Ahmad Ramadhan: Biola itu Seksi, Manis, dan Genit

Wawancara Ahmad Ramadhan dan Klab Klassik diambil dari sini

Ahmad Ramadhan alias Rama, baru saja melangsungkan resital bersama kuartetnya, tepat sebulan lalu. Violinis yang lahir pada tanggal 17 Desember 1989 ini, awalnya merupakan aktivis KlabKlassik (KK) yang cukup militan. Hanya saja, demi karir musiknya, selepas SMA ia memutuskan sekolah di ISI Yogya, yang menyebabkan KK tidak lagi menjadi prioritas. Benarkah begitu? Berikut petikan wawancara dengan Rama via facebook:

KK : Rama oh Rama, belajar biola sama siapa?
Rama (R) : Mulainya tahun 1998, sama Bu Yalezh. Waktu itu belajar dua tahunan sebelum pindah ke Pak Nyoman selama tiga tahun. Setelah itu saya belajar sendiri, sampai akhirnya dibimbing oleh Pak Pipin Garibaldi di ISI Yogya hingga sekarang.

KK : Eh, Ram, kenapa memilih biola sebagai instrumen favorit?
R :Awalnya saya gak terlalu ngerti soalnya masih polos.
Kalo sekarang, saya punya alasan: soalnya biola itu seksi, tonenya manis dan genit, trus di warna nada bawahnya bikin grrrr..gitu. Disamping itu, kita juga bisa banyak eksplor warna nada di biola.

KK : Kalo gak salah ya, awalnya kamu ini kan ada rencana resital solo biola aja di Bandung, kok malah jadi bareng D'Java Quartet?
R : Saya kurang latihan, terus kepentok masalah teknis juga. Banyak juga hal-hal mendasar yang harus diperbaiki, dan itu ketahuannya waktu baru balik dari Thailand (Rama sempat menjadi anggota orkestra Asia Tenggara yang berlatih dan konser di Thailand –red). Jadi setelah dipikir-pikir, mending nguatin basic dulu biar lebih joss..gitu. Kalo ama D'Java, soalnya emang lagi enjoy2nya maen quartet, jadi kenapa tidak kita sekalian ngadain konser? Daripada tidak berbuat sama sekali.

KK : Oh, ya, kemarin kan main di Bandung tuh (17 April). Adakah suka dukanya?
R : Moodnya naik turun, soalnya capek. Trus agak stress juga, terutama gara-gara bahan duet nya. Wah itu sampe jungkir balik gila deh. Kalo bahan-bahan quartetnya sih udah lumayan enjoy, malahan waktu itu kita pernah ngelakuin latihan yang ga perlu lama banget ampe jam satu pagi, padahal biasanya latihan yang serius sekitar 1-2 jam. Demi nge-refresh mood sih..hehe.
Terus aku juga pas maen di radio itu pas lagi sakit perutnya, bahkan dah sampai di ujung tanduk. Wah, konsentrasinya kebagi dua antara maen quartet ma menahan agar tembakan-tembakan nan nista dari belakang tidak keluar dan mengisi ruangan dengan wewangian semerbak khas bunga rafflesia..hehe
Tapi pas hari H, liat penontonnya penuh, moodnya langsung naik 300 %, ampe rasanya mo terbang. Pas di panggung meski ngomong keplintat plintut, tapi yang penting enjoy deh, konser di bandung emang paling asik

KK : Wah, wah, siapa dulu dong manajernya hehe.. =p jadi ada rencana maen lagi di Bandung ga?
R : Tergantung yang ngundang deh.. hehe. Tapi kita ada rencana mau konser di Bandung lagi sih, mungkin akhir tahun kalo enggak tahun depan. Ya tunggu aja deh infonya.

KK : Oke, kita ganti topik sejenak. Apa perbedaan atmosfer bermusik di Bandung dan di Yogya?
R : Kalo untuk atmosfer bermusik seni, kayaknya lebih kena di Yogya yah, soalnya tingkat apresiasi terhadap musik seninya lebih tinggi. Mungkin ini karena di Jogja, institut maupun sekolah kejuruan yang bernafaskan seni sudah ada sejak lama jadinya apresiasinya sudah terbentuk dengan sendirinya. Kemudian banyak seniman yang pada gila (dalam arti karya-karyanya mulai mencari bentuk-bentuk baru atau sesuatu yang berbeda). Bahkan di Yogya konser musik kontemporer boleh dibilang udah jadi hal yang biasa.
Kalo di Bandung sepertinya musik seni lagi pada tahap perkembangan dan apresiasinya masih awam, tapi sudah mulai terlihat adanya arah apresiasi yang lebih tinggi lagi. Seharusnya sekolah-sekolah tinggi musik yang ada di Bandung bisa mendorong apresiasi ini, tapi ya mungkin butuh waktu. Tapi aku pikir kinerja KlabKlassik untuk hal ini sudah luar biasa, tinggal terus berjuang jangan pantang menyerah, karena peran kalian di wilayah ini sangat penting..hehe.
Tapi kalo dari segi penonton/ penikmat musik, yang aku rasain sih lebih sip di Bandung, soalnya kalo di jogja kesannya yang nonton ya “dia artis, aku juga artis “ sama-sama artis gitu kasarnya, jadinya animonya biasa-biasa aja. Tapi kalo di Bandung, banyak yang datang sebagai pure penikmat musik, jadi penghargaan yang diberikan terhadap yang di panggung itu terdengar lebih ikhlas dan lebih dari sanubari gitu.

KK : Trus sekarang lagi sibuk apa, Ram?
R : Sekarang ya lagi sibuk mempersiapkan ujian mayor nih,
terus di sela-sela waktunya juga ikut orkes-orkes seperti NSO dan Yogya Philharmonic Orchestra, terus juga lagi ngebantuin anak-anak komposisi di ISI bwat pergelaran komposisinya sebagai yang maenin karya-karya mereka, konsernya tanggal 26-28 mei ini, udah deket nih. Sekedar info tambahan, komunitas ini namanya 6,5 Composers.

KK : Ngomong-ngomong, Rama latihan berapa lama sih per harinya?
R : Rata-rata 2- 3 jam, tapi targetnya pingin ampe 6-8 jam perharinya.

KK : Trus ngomong-ngomong lagi, apa pesan dan kesan selama di KlabKlassik?
R : Asik tenan, soalnya komunitas ini punya satu kelebihan: keintiman di dalam maupun di luar pertemuan musik itu sendiri, klab ini seakan-akan bisa membuat orang-orang yang berada di dalamnya nyaman untuk show apapun..hehe. Tapi, sayangnya, kenapa orang-orang string-nya malah jarang yang bergabung ya? ini juga dilema yang dirasakan di Yogya juga, dimana pemain orkes kesannya lebih angkuh untuk bergabung dengan komunitas rendah hati semacam ini. Kebanyakan yang bergabung adalah dari kalangan gitar. Di Yogya juga loh, aneh tapi nyata. Padahal di komunitas seperti inilah kita bisa berbagi pengalaman atau saling bertukar pikiran, sedikit menyentuh ranah intelektual atau sekedar perang pendapat atau menunjukkan keahlian, tapi itu positif
pokoknya jangan berpikir instrumen anda paling dahsyat deh, instrumen sekedar pilihan, tapi ’bagaimana memainkannya’, itulah perjuangan sebenarnya.

KK : Oke, terakhir, Ram, ada pesan-pesan yang mau kamu bagikan?
R : Apa ya?
You will never make music without enjoying every single note that you play.
Buat pemain biola ataupun instrumen lainnya, inti dari semua teknik bermain musik adalah rileks. Buat diri kita senyaman mungkin dengan alat kita, kalau kita sendiri tidak nyaman, apalagi suara yang kita hasilkan.

KK : Amin, nuhun ah, Ram! Maturnuwun!
Rama : Same-same!

Selasa, 13 Oktober 2009

Tentang D'Java String Quartet


Berawal dari semangat bermain tanpa konsep, akhirnya Danny Ceri (Violin), Ahmad Ramadhan (Violin), Dwi Ari Ramlan (Viola) dan Ade Sinata (Cello), memutuskan untuk membentuk String Quartet pada tanggal 22 November 2008 yang diberi nama D’Java String Quartet.

Meski terbilang pendatang baru, namun D’Java String Quartet (DSQ), aktif menunjukkan eksistensinya dengan menyelenggarakan konser bersama maupun tunggal.Pada 9 Maret 2009 lalu, DSQ bersama Ika Sri Wahyuningsih, seorang soprano Indonesia yang juga anggota dari trio PVC, mengadakan konser apresiasi di UKRIM Yogyakarta. Tanggal 27 Maret 2009, bersama dengan 2 string quartet lainnya yang tergabung dalam Yogyakarta Youth String Quartets (YYSQ), DSQ mengadakan konser di Lembaga Indonesia Prancis Yogyakarta. Dan 17 April 2009 d’Java menggelar resital tunggal perdananya di auditorium CCF Bandung.
Selain program apresiasi, DSQ mencoba membawa misi edukasi dengan mengadakan workshop chamber music di Sekolah Menengah Musik (SMM) Yogyakarta yang berlangsung dari tanggal 13-30 Oktober 2009 bekerjasama dengan YYSQ dan Jogjakarta Pilharmonic Orchestra (Jopilo).

Untuk meningkatkan kualitas dan kemampuan para personilnya, DSQ rajin mengikuti beberapa masterclass dari grup string chamber yang terkemuka, seperti Doric String Quartet dari Inggris, Trio Storioni dari Belanda, Prof. Takashi Shimizu dari Jepang, serta mengikuti Bandung Music Camp 2009 dengan tutor Damien Ventula (cellist/French). Selain tampil secara kelompok, para personil d’Java pun aktif untuk mengikuti event musik skala Internasional seperti South East Asian Youth Orchestra and Wind Ensemble (SAYOWE) di Thailand dan Hida Takayama Music Festival di Jepang.

Saat ini DSQ tengah mempersiapkan tour concert yang akan diselenggarakan di awal tahun 2010, serta mempersiapkan proyek kolaborasi dengan musisi tradisi.

Repertoar yang pernah dimainkan DJava String Quartet
  • Wolfgang Amadeus Mozart. String Quartet no.4 in C major K. 157
  • Ludwig van Beethoven. String Quartet in B flat major op.18 no.6
  • Handel-Halvorsen. Passacaglia for violin and viola
  • Zoltan Kodaly. Duo for violin and cello op.7
    • I. Allegro serioso, non troppo
  • Claude Debussy. String Quartet in G minor op.10
    • I. Anime et tres decide
    • II. Assez vief et bien ryhtme
    • III. Andante doucement espressif
    • IV. tres modere
  • Tsinsatdze. Four Miniature for String on Georgian Folk Song
    • I. Indi-mindi
    • II. Mtskhemsuri
    • III.Sachidao
    • IV.Suliko
  • Antonin Dvorak. String Quartet no.12 “The American” in F major op.96
    • I. Allegro ma non troppo
    • II. Lento
    • III. Molto vivace
    • IV. Vivace ma non troppo
Innumerable program :
  • Appreciation Concert at UKRIM, Yogyakarta
  • Yogyakarta Youth String Quartet in Concert at LIP Yogyakarta
  • D’Java String Quartet in concert recital at CCF Bandung
  • String Chamber Music Eve at Auditorium Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta
Next Program :
  • Home Concert 2009 at auditorium ISI Yogyakarta : November 30th 2009
  • Youth Chamber Music Festival at Goethe Haus Jakarta : December 12th 2009
  • Appreciation Concert at LIP Yogyakarta : January 22nd 2010
  • D’Java tour deJava : February-March 2010
  • D’Java tour deJava 2nd round : May-June 2010
________


Personil DJava String Quartet:

Danny Ceri (Violin)
Bantul, 6 September 1988

Guru pembimbing :
Kiki Kwintanada S. Sn
Drs. Pipin Garibaldi, DM, M. Hum.

Pengalaman Musik :
  • 2003-2006 Anggota Gita Bahana Nusantara( orkes kenegaraan dalam rangka upacara 17 Agustus di Istana Negara). Menjadi Concert Master: 2004-2006.
  • 2004 Mengikuti Asian Art Festival di Chang Chun, China. Mewakili Indonesia dalam orkes GBN sebagai Concert Master.
  • 2005 Mewakili Indonesia dalam acara kerjasama budaya antara “ASEAN-ROK(Republic of Korea)” dalam format Orchestra. Lulus grade 8 Associated Board Of The Royal School Of Music.
  • 2007 Mengikuti Music Workshop di Tokyo, Japan dengan beberapa guru biola. Menjadi anggota tetap Twilite Orchestra pimpinan Addie MS hingga sekarang. Menjadi soloist dalam acara “Yogyakarta Contemporary Music Festival 2007”. Mengikuti Music Camp Workshop “SAYOWE” di Bangkok, Thailand. Menjadi Concert Master Orkestra Mozaik Nusantara pada pergelaran Anugereah Seni Budaya di Candi Prambanan Yogyakarta, yang diselenggarakan oleh Menteri Kebudayan dan Pariwisata.

Ahmad Ramadhan
(Violin)
Bandung, 17 Desember 1989

Pembimbing :
A. Yalessenastri Vivayati (1998-2001)
I Nyoman Mahendra (2001-2003)
Pipin Garibaldi (2007 -sekarang)

Pengalaman di musik:
Orkestra :
  • Nusantara Symphony Orchestra (2007-sekarang)
  • South East Asia Youth Orchestra and wind ensemble (SAYOWE) 2008
  • Jakarta Chamber Orchestra (2005-2007)
  • Sadaya Chamber Orchestra (2004-2006)
  • Gita Bahana Nusantara 2003
  • Bandung Junior Orchestra (1999-2001)
Soloist :
  • Yogyakarta Contemporary Music Festival 2008
  • 13th Yogyakarta Gamelan Gestival
  • Musik Klasik 3butes 2008
  • 6, 5 composers collective day
  • Gema Khatulistiwa 2008
  • Home Concert 2008 “A night of Musical Journney”
  • Let Me See Concert 2007 “Werno werni 2007”
  • Bandung April String Festival 2006
  • Bandung Classical Guitar Fiesta 2005 (as guest musician)
  • Classicare 2005
Music Camp and Master Classes :
  • SAYOWE 2008 di Thailand
  • Rieko Suzuki (Japan)
  • Heleen Hulst (Dutch)
  • Pavel Sedov (Russia)

Dwi Ari Ramlan (Viola)
Subang, 27-04-1988
  • Pertama kali belajar Musik di Sekolah Menengah Musik (SMM) Yogyakarta pada tahun 2004 - 2007.Dengan spesialis VIOLA di bawah bimbingan Leonardus.S.Sn.
  • Mulai aktif di Orkestra SMM tahun 2005.
  • Tahun 2007 melanjutkan pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) yogyakarta d bawah bimbingan RM.Surtihadi.S.Sn. sampai saat ini.
Pengalaman Bermusik :
  • Sebagai pemain Orkestra di OSMI pada tahun 2005-2007.
  • Sebagai pemain Orkestra di Jogja Philharmonic Orchestra pada tahun 2007 sampai sekarang.
  • Ikut serta sebagai pemain Orkestra Gita Bahana Nusantara (GBN) di istana negara pada tahun 2006.
  • Ikut serta sebagai pemain Southeast Asian Youth Orchestra (SAYOWE) di thailand tahun 2008.
  • Ikut serta sebagai pemain dalam acara SEAMEO (South East Minister of Education Organization) di bali pada tahun 2007.
  • Ikut serta sebagai pemain dalam acara Semarang Pesona Asia bersama Vista Orkestra pada tahun 2007.
  • Ikut serta sebagai pemain Mozaik Nusantara Orkestra pada tahun 2007.
  • Mengikuti konser akbar penggalangan dana sedunia dengan conductor berasal dari German.
  • Mengikuti Workshop dari Robert Brown (USA) di bali pada tahun 2005.
  • Juga terlibat pada beberapa orkestra indonesia lainnya baik dalam format besar ataupun kecil.
Ade Sinata (Cello)

Belajar cello pertama kali di SMM ( Sekolah Menengah Musik ) Yogyakarta dibawah bimbingan B.Berta dan mengikuti master class cello dengan Sulistyo Utomo dan Budi Ngurah. Lulus dari SMM melanjutkan studi di Institut Seni Indonesia di bawah bimbingan Asep Hidayat hingga sekarang. Pengalaman musik antara lain : tergabung dalam Jogja Cello Ensemble, Surabaya Simphony Orchestra, Gita Bahana Nusantara tahun 2004&2007,workshop musik dengan Doric string kwartet dari Inggris, F-Hole String Orchestra, Semarang Youth Chamber Orchestra, Yogyakarta Contemporary Music Festival tahun 2007, tampil dengan conductor dari Belanda Ruud Van Eeten, Vista Orchestra, Jogja Philharmonic Orchestra, Santa Theresia Simphony Orchestra, Cikini Simphony Orchestra, AMARI Jogja, Cellipop, tampil sebagai salah satu soloist cello recital di Goethe Haus Jakarta.

Pernah mengikuti SAYOWE ( South Asian Youth Orchestra and Wind Ensemble ) tahun 2007&2008 di Bangkok, Thailand. Dan memainkan karya dari Igor Stravinsky “ Fire Bird Suite”, Richard Wagner “Flying Dutchman”, Aram Kachaturian, Nikos Skalkotas, Sulkhan Tsintsadze. Di tutori dan mendapat master class cello oleh Prof.Marcin Swaelezki dari Polandia di Thailand. Tampil dengan maestro Hobart Earle,principal conductor dari Odessa Philharmonic Orchestra.